Wednesday, 27 January 2016

Kisah DAUN & POHON.

Oleh: Septo Wahyu (TIM MLJ Taruna Muslim)



Daun : Pohon, terimakasih ya sudah menjadi tempat kami bernaung selama ini.

Pohon : Justru aku ya berterimakasih daun. Kalian lah yang membuat aku memiliki banyak manfaat.
Jika kalian tidak ada mungkin aku sudah ditebang karena dianggap sudah mati dan tdk berguna.
Kalian lah yang membantuku melakukan fotosintesis shg aku dapat menyejukkan udara di sekitarku.

Daun : Kami yang lebih berterimakasih pohon. Karena kaulah yang telah menumbuhkan kami menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Karena kau lah juga alasan kami untuk terus bertahan dari terpaan angin, hujan, dan panas, karena kami sadar kami harus terus bertahan untuk dapat terus menyebarkan manfaat.
Tapi, pohon maaf kami sepertinya harus meninggalkan kamu sekarang.

Pohon : Tapi, kenapa daun ? Kenapa kalian harus meninggalkan aku ?

Daun : Karena sudah waktunya pohon. Tapi, kau tenang saja. Kami akan gugur di sekitarmu, jadi kami tidak benar benar meninggalkanmu. Kami akan membusuk di sekitarmu, dan menjadikanmu tetap subur. Kau tenang saja, akan tumbuh daun daun muda yang dapat terus membantu kau menebar manfaat kok.

Pohon : Baiklah daun, Terimaksih atas semua. Engakau akan terus ku ingat. Selamat tinggal daun.

Daun : Selamat tinggal pohon :)
_________________
Bisa dibaca juga di Instagram: @iqrodaily dalam #iqromenulis

Yuk Sholah Dhuha ^o^

Oleh: Bunga Lidia Rahma (TIM MLJ Taruna Muslim)


Sebanyak apakah nikmat yang Allah berikan kepada kita?
Tentu kita tidak bisa menghitungnya, bukan?
Karenanya, pagi hari, di sela - sela kegiatan yang baru kita mulai, cobalah meluangkan 10 - 15 menit saja untuk shalat Dhuha. Berapa rakaat? Terserah, bisa dua, empat, atau enam rakaat sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah.

Rasul pernah bersabda, dengan mengerjakan shalat Dhuha, kita bersedekah untuk 360 ruas tulang tubuh kita. Berapa banyak pahala yang didapat? Padahal, kita mendapatkan semua itu hanya dengan meluangkan 5 - 10 menit saja.

Dengan mengerjakan shalat Dhuha di pagi hari, Allah berjanji akan mencukupi kebutuhan kita pada sore hari. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim. Dengan shalat Dhuha, Allah juga akan memberi kita kesehatan, semangat, ketenangan hati, dan bimbingan untuk melakukan kebajikan.

Source : Open Your Heart, Follow Your Prophet
________________
Bisa dibaca juga di Instagram: @iqrodaily dalam #iqromenulis

HIJRAH...

Oleh: Hernita (TIM MLJ Taruna Muslim)


Hijrah tak semudah yang kalian bayangkan. Dimulai dari cara berpakaian yang modern menuju berpakaian syar'i. kenapa demikian? Ya karena kita harus siap dengan komentar orang-orang disekitar kita, belum lagi banyak yang berkomentar pedas dan sedikit yang menyemangati. Tapi bagiku, sedikitnya yang menyemangati adalah yang paling berharga.

Bagi mereka yang belum faham soal ini, pasti dengan mudahnya berkata:gayanya norak, kaya ibu-ibu majelis ta'lim;ih gak modis banget deh penampilannya ; ih kaya istri/cewe teroris;sok alim; rempong napa itu pakaiannya dan yang lebih sakit lagi udah berpakaian syar'i seperti itu tapi kelakuannya belum benar, masih suka ngomongin orang. munafik banget deh .

Sedih sekali hati ini mendengar komentar-komentar yang pedas seperti itu tanpa mereka tidak tau bagaimana proses menuju hijrah. Tapi itulah yang sering terjadi, padahal perkara penampilan dan ahlak adalah dua perkara yang berbeda. Jangan pernah salahkan hijabnya, pakaian syar'i-nya, apalagi Agamanya (islam) jika akhlaknya masih kurang baik dan kurang benar. Malah jangan menyuruh dicopot hijabnya karena akhlaknya masih kurang baik dan kurang benar.

Ya mereka memang berhak berkomentar, tapi sangat disayangkan berkomentar yang buruk tanpa menyemangati atau mendukung dan tanpa mengetahui proses menuju jalan yang lebih baik ini.

Hampir-hampir aku putus asa saat berhijrah, bahkan aku sampai berpikir apakah aku hentikan saja sampai disini? Menjadi orang biasa saja.; "tak dihargai sungguh menyakitkan".

Jangan!!! Bagi kalian ukhti yang sedang berhijrah jangan berpikiran seperti itu apalagi sampai berhenti berhijrah. Karena disinilah aku menyadari bahwa Allaah subhanahu wa ta'ala sedang menguji keimanan dan keistiqomahan kita. Kini aku tak peduli dengan cemoohan orang-orang, tetapi kujadikan cemoohan mereka sebagai pembelajaran untuk memperbaiki diri dan lebih semangat lagi untuk berhijrah. Aku tak butuh pujian mereka, like mereka seperti di facebook. Yang kubutuhkan doa dan semangat. Aku berhijrah lillaahi ta'aalaa, inilah salah satu bentuk taat ku pada-Nya dan yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya agar kita tetap istiqomah dijalan ini. Ayo berhijrah, ayo kita berjalan bersama menuju jannah-Nya, ayo sama-sama kita istiqomah dan kita harus yakin bahwa janji Allah itu pasti.
________________
Bisa dibaca juga di Instagram: @iqrodaily dalam #iqromenulis

Terinspirasi dari "Cerita Kisah 4 Lilin"

Oleh: Cyndi Alfiani (TIM MLJ Taruna Muslim)


Belajarlah seperti Kisah 4 Lilin. Saat keluhan itu datang, pasti inget Kisah 4 Lilin itu. Belajar untuk tidak mengeluh. Dan terus berusaha dengan Harapan. Harapan tidak pernah mati di dalam hati kita. Selagi kita bersyukur lihat apa yang di bawah, selagi kita bisa mengontrol emosi kita. Percayalah, kemudahan pasti datang. Kedewasaan bukan diihat dari usia, tapi lihat dari bagaimana kita bisa menyikapi masalah dengan tenang. Berfikir positif dan buang jauh-jauh hal yang negatif. Perbaiki diri dan pantaskan diri. Lihat cermin, unjuk cermin itu. Dan YAKIN KAMU BISA :)
________________
Bisa dibaca juga di Instagram: @iqrodaily dalam #iqromenulis

MIMBAR DAKWAH, DULU DAN KINI

Oleh: Paibo Rusdi H. N. (TIM MLJ Taruna Muslim)


Dahulu... Mimbar dakwah adalah tempat yang sangat terhormat. Ia hanya boleh diisi oleh orang-orang yang berilmu.
Diatasnya curahan ilmu dan hikmah mengucur deras ke hati para pendengar.
Adab yang keluar dari seorang ulama/da'i menjadi daya tarik tersendiri bagi para jamaah.
Sehingga mereka yang datang tidak hanya  pulang membawa ilmu, tapi juga pancaran adab sang guru.
Contoh nyatanya adalah majelis Imam Ahmad.
Diantara puluhan ribu jamaah yang hadir, hanya 500 orang yang menulis, sisanya memperhatikan bagaimana adab seorang Imam Ahmad.

Adapun saat ini....?
Sebagian mimbar dakwah berubah menjadi panggung hiburan. Lebih banyak diisi oleh para pelawak berbaju Ustadz. Sedikit ilmu, kering adab.
Hasilnya adalah banjir idola dan miskin teladan.
Jamaah yang semestinya pulang membawa ilmu, justru kembali dengan hati yang keras.
Kita tidak mengatakan bahwa canda dan gurauan itu haram bagi seorang da'i.
Tapi ia ibarat garam bagi makanan, bila berlebihan maka akan merusaknya.
Kecuali canda dan gurauan yang bercampur dusta. Hukumnya haram untuk selama-lamanya.
______________
Bisa dibaca juga di Instagram: @iqrodaily dalam #iqromenulis

THINK BIG

Oleh: Nurul Ulfah (TIM MLJ Taruna Muslim)


T - berarti "talent" & "time".   Keduanya adalah hadiah dari sang pencipta
H - adalah "hope", adalah harapan untuk hal-hal yang baik dan jujur
I - adalah "insight". Wawasan yang diperoleh dari orang lain atau bacaan yang bermutu
N - adalah "nice to all people", berbuat baiklah pada semua orang
K - adalah "knowledge", itu adalah kunci kehidupan

B - adalah "book", bacalah buku sebanyak-banyaknya
I - "in-dept" belajar dan perdalamlah keterampilan
G - adalah "God", jangan lupa pada sang Maha kuasa.
_____________
Bisa dibaca juga di Instagram: @iqrodaily dalam #iqromenulis

KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM ADALAH SOLUSI PERJUANGAN ISLAM (Part 1)

Oleh: Wahyudin Wisudawan (Tim MLJ Taruna Muslim)


Memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN ( MEA ). Indonesia dihadapkan oleh permasalah yang sangat besar. Bahwasannya segala bidang di Indonesisa pastinya dipengaruhi oleh hal tersebut. Dari budaya, sosial dan politik, pendidikan, ekonomi. Dari yang sederhana hingga yang persoalan besar. Budaya yang sangat dinamis menjadikan bangsa Indonesia semakin kehilangan identitas kebangsaannya dan tentunya umat islam semakin kehilangan indentitas keislamnya. Melihat hal tersebut tentunya dunia pendidikan memiliki peran penting dalam menentukan generasi mendatang.

Pendidikan harus mampu menjadikan gerasi mendatang adalah gerasi emas. Melihat kurikulum yang sekarang, apakah pendidikan indonesia sudah mencapai hal tersebut? upaya apa yang telah dilakukan? Kenyataannya bahwa pendidikan di indonesia kini hanya membuang Uang, membuang tenaga, membuang umur. Semakin lama semakin Mahal pendidikan, semakin lama semakin lelah berfikir, dan tak lebih dari 16 tahun hanya untuk menjadi Sarjana strata-1.

Melihat hal tersebut pendidikan pula dihadapkan oleh generasi-generasi yang semraut dengan masalah, dari Bullying hingga Prostitusi pelajar. Ini merupakan hasil dari perkembangan generasi saat ini terhadap lingkungan yang dinamis.

Bila dibandingkan kembali pada masa kejayaan Islam, Pendidikan mulai tersusun secara terstruktur pada masa Dinasti Abbasiyah (132 H - 656 H). Pada masa itu Pendidikan didasari oleh Keimanan, bersumber dari Al-Qur'an lalu di aplikasikan dalam teknologi-teknologi yang canggih pada masanya. Padahal pada masa itu pendidikan wajib yang ditempuh hanya 12 tahun. Yaitu 6 tahun di Kuttab, dan 3 tahun di Madrasah.

Setelah itu mereka berkelana. Pada umur 16 tahun mereka menikah. Lihatlah cendikiawan muslim pada masa lalu yang selalu di dasari oleh keimanan, ilmunya sampai kini terkenal ke seluruh dunia..
Berbanding terbalik pada masa saat ini, hilangnya rasa keimanan hilang pula pengetahuan.
Semoga tulisan ini menjadi motivasi kita dalam membentuk pendidikan yang lebih baik. Bersumber dari Al-Qur'an dan as sunah, menanamkan keimanan dalam murid kita kelak.
_________________
Bisa dibaca juga di Instagram: @iqrodaily dalam #iqromenulis